Kawah Ijen

Dini hari biasanya orang sedang asyik terlelap. Namun, tidak begitu yang terjadi di Gunung Ijen, di Bondowoso, Jawa Timur. Saat dingin masih menusuk tulang, waktu sekitar tiga per empat malam, aktivitas di Gunung Ijen justru menggeliat. Para pendaki mulai bersiap mendaki ke kawah gunung ini. Dengan medan tanah berpasir dan sesekali bebatuan terjal, wisatawan butuh waktu normal mendaki sekitar 3-4 jam. Hawa dingin akan berjibaku dengan beban yang harus ditumpu kaki selama mendaki dengan kemiringan 40 derajat. Namun, langkah dan aktivitas para pendaki tak surut. Apa sih yang mereka buru?

Blue fire. Itu tujuan para pendaki sampai rela bersusah payah mendaki ke kawah di ketinggian 2.443 meter dari atas permukaan laut. Mereka menunggu semburan api biru yang muncul dari Kawah Ijen. Ijen adalah satu dari dua lokasi di dunia yang punya fenomena tersebut, selain di Islandia. “Menakjubkan, tempat ini ternyata indah sekali,” kata Fred, turis asal Perancis yang menyaksikan langsung kobaran blue fire,

Api berwarna biru terlihat bergoyang di puncak gunung, dari dini hari hingga menjelang fajar. Waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah antara pukul 02.00 WIB hingga 03.00 WIB.

Pesona api biru Kawah Ijen telah mendunia. Banyak wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke kawah yang punya kedalaman 200 meter dan luas 5.466 hektar tersebut.

pada 2015 lebih dari 40.000 wisman berkunjung ke Kawah ijen. Adapun turis yang paling mendominasi berasal dari Perancis dan China. Namun, setiap pendaki ke kawah ini harus tahu benar risiko di balik pesona “blue fire”, agar bisa selalu waspada. Ada asap dan bau belerang yang berbahaya bila sampai terhirup berlebihan, sekalipun sudah memakai masker. Nah, untungnya, pesona kawasan Ijen juga bukan hanya blue fire. Melihat para penambang belerang di kawah ini, bisa jadi tontonan mempesona tersendiri. Mereka bekerja dengan alat seadanya dan memakai cara konvensional. Tontonan yang bisa menakar nyali diri sendiri.

Para penambang ini turun ke dasar kawah dan mengumpulkan bongkahan belerang. Bongkahan itu lalu mereka pikul ke tempat penampungan di puncak gunung. Semua aktivitas penambangan belerang tersebut dilakukan memakai tangan dan tenaga manusia saja. Banyak turis berdecak melihat keberanian dan kekuatan otot para penambang ini. Lalu, momen matahari terbit di atas puncak Gunung Ijen, juga bisa jadi pesona tersendiri.

Panorama yang terhampar di depan mata setelah matahari memperlihatkan diri, menjadi pesona berikutnya. Dari puncak gunung ini, pengunjung bisa melihat jauh menyeberangi daratan, bahkan sampai melihat puncak Gunung Merapi di Yogyakarta yang ada di timur Kawah Ijen. Gunung-gunung lain juga seolah menyembul di balik awan, seperti puncak Gunung Raung, Gunung Suket, dan Gunung Rante, yang semuanya ada di sekitar Gunung Ijen.

Mengabadikan momen Sama seperti tempat rekreasi lainnya, mendaki ke Kawah Ijen wisatawan dikenakan juga biaya masuk. Bagi wisatawan domestik tiketnya Rp 5.000 per orang pada hari kerja dan Rp 7.500 per orang pada hari libur.

Adapun untuk wisman, tiket masuk dibanderol Rp 100.000 per orang pada hari kerja dan Rp 150.000 per orang pada hari libur. Kalau tiket sudah bayar, mendaki juga tak ringan, maka mengabadikan perjalanan adalah pilihan yang masuk akal. Dokumentasi foto diri berlatar pesona kawah ini adalah salah satunya. 

Bagikan ini sama temen kamu :

× Have a question?